Blog Pendidikan Agama Islam

Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas XII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas XII. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 September 2020

IMAN KEPADA HARI AKHIR

 IMAN KEPADA HARI AKHIR

Pengeritian Iman

Pengertian iman secara bahasa menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin adalah pengakuan yang melahirkan sikap menerima dan tunduk. Kata beliau makna ini cocok dengan makna iman dalam istilah syari’at. Dan beliau mengkritik orang yang memaknai iman secara bahasa hanya sekedar pembenaran hati (tashdiq) saja tanpa ada unsur menerima dan tunduk.

Adapun secara istilah, Imam Malik, Asy Syafi’i, Ahmad, Al Auza’i, Ishaq bin Rahawaih, dan segenap ulama ahli hadits serta ahlul Madinah (ulama Madinah) –semoga Allah merahmati mereka- demikian juga para pengikut madzhab Zhahiriyah dan sebagian ulama mutakallimin berpendapat bahwa definisi iman itu adalah : pembenaran dengan hati, pengakuan dengan lisan, dan amal dengan anggota badan. Para ulama salaf –semoga Allah merahmati mereka- menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Oleh sebab itu iman bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal juga bertambah dan berkurang (lihat Kitab Tauhid li Shaff Ats Tsaani Al ‘Aali, hal. 9).

Pengeritian Hari Akhir/Kiamat

Hari Kiamat menurut bahasa adalah hari kehancuran dunia, kata ini diserap dari bahasa Arab “Yaum al Qiyamah” , yang arti sebenarnya adalah hari kebangkitan umat. Sedangkan hari kiamat (kehancuran alam semesta beserta isinya) dalam bahasa Arab sering disebut dengan “As-Saa’ah“. (الساعة) disebut juga hari Pembalasan (Q.S. al-Fātihah/1:4) 

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Yang Menguasai Hari Pembalasan"

Secara istilah Yaumul Qiyamah sering diartikan hari kiamat (kehancuran alam semesta beserta isinya). 

Kebenaran akan datangnya Hari Akhir dapat ditemukan melalui kajian ayat-ayat al-Qur’±n, ilmu pengetahuan, dan panca indera. Melalui kajian akan kebenaran adanya Hari Akhir, kalian dapat menghayati akan nilai-nilai keimanan kepada Hari Akhir. Perhatikan Q.S Al Hajj Ayat 7 dan QS Thaha ayat 15

وَأَنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ ٱللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِى ٱلْقُبُورِ
Artinya :

Dan Sesungguhnya hari kiamat itu Pastilah datang, tak ada  keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di  dalam kubur.” (QS. Al-Hajji : 7)

إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا تَسْعَىٰ

Artinya :
Segungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan  (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia  usahakan.” (Q.S. Thâha/20:15)

Pembagian Hari Kiamat

1. Kiamat Sughra / Kecil   

Peristiwa datangnya kematian bagi setiap makhluk termasuk manusia yang bersifat lokal atau individu. kiamat ini tertuang pada firman Allah SWT

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu

- Kematian adalah berpisahnya ruh dan jasad. Ruh kembali kepada Allah SWT sedangkan jasad kembali ke asal penciptaanya (tanah)
- Setiap orang yang sudah meninggal, maka dia akan memasuki alam barzakh, yaitu alam yang membatasi antara alam dunia dan alam akhirat
- Peristiwa-peristiwa yang harus diimani yang akan terjadi sesudah meninggal antara lain :
   * Fitnah kubur : beragam pertanyaan yang diajukan kepada mayat tentang Rabb, agama, nabi, imam dan kiblat
   * Siksa dan ni'mat kubur : siksa kubur diperuntukan bagi orang yang dzalim, munafik, kafir dan musyrik. sedangkan ni'mat kubur diperuntukan bagi orang yang baik amal ibadahnya di dunia.

2. Kiamat Kubra / Besar 

Peristiwa berakhirnya seluruh kehidupan makhluk dan hancur leburnya alam semesta secara total dan serentak. proses kiamat tersebut digambarkan dalam Al-Qur'an (Q.S At-Takwir )

    
إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ (1) وَإِذَا النُّجُومُ انْكَدَرَتْ (2) وَإِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْ (3) وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ (4) وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ (5) وَإِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ (6) وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ (7) وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ (8) بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ (9) وَإِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ (10) وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ (11) وَإِذَا الْجَحِيمُ سُعِّرَتْ (12) وَإِذَا الْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ (13) عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا أَحْضَرَتْ (14)
Apabila matahari digulung, (1) dan apabila bintang-bintang berjatuhan, (2) dan apabila gunung-gunung dihancurkan,(3) dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan), (4) dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,(5) 'dan apabila lautan dipanaskan, (6) dan apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh), (7) apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, (8) karena dosa apakah dia dibunuh, (9) dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka, (10) dan apabila langit dilenyapkan, (11) dan apabila neraka Jahim dinyalakan, (12) dan apabila surga didekatkan, (13) maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya. (14)

kemudian dalam Q.S Az-Zalzalah : 1-5 : 

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5) يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Artinya:
Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?” Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

Hari Kiamat Menurut Ilmu Pengetahuan 

Menurut Geologi 

Bumi terjadi dari gas yang berputar (chaos catastrope). Setelah diam gas itu menjadi dingin, maka gas yang berat mengendap ke bawah, dan yang ringan berada di atas. Melalui proses evolusi yang lama sekali, gas bagian luar mengeras menjadi batu, kerikil, pasir, dan sebagainya, sedangkan bagian tengah masih panas. Zat panas bercampur lava, lahar, batu, dan pasir panas. Bumi beredar karena adanya daya tarik matahari terhadap bumi berkurang. Akibatnya bumi akan bergeser dari matahari, sehingga putaran bumi semakin cepat dan akan mengalami nasib seperti meteor (menyala/hancur).

Menurut Teori Fisika

Letak matahari adalah 149.597.870, 7 km, jauhnya dari bumi, sinar matahari sampai ke bumi selama 8 menit 20 detik. Garis tengah matahari = 1,4 juta km dan luas permukaannya 616 × 1010 km = 622.160 km. Menurut ahli fisika energi matahari dipancarkan ke angkasa dan sekitarnya 5,7 × 1027 kalori = 5.853,9 kalori/menit dan mampu menyala 50 milyar tahun dengan panas 15 juta derajat celcius. Kalau suatu ketika matahari tidak muncul atau cahayanya redup karena tenaga/sinarnya habis, maka tidak ada angin dan awan yang berakibat hujan tidak akan turun. Selanjutnya gunung-gunung akan meletus, ombak bergulung-gulung, air laut naik sehingga hancurlah bumi ini.

Periode Hari Akhir

1. Yaumul Ba'ats : hari dibangkitkannya semua makhluk dari alam kuburnya setelah hancur dan musnahnya alam.

2. Yaumul Hasyr (Alam mahsyar) : hari berkumpulnya  manusia setelah dibangkitkan dari kuburnya masing-masing lalu digiring ke tempat luas yang bernama padang mahsyar
  
3. Yaumul Hisab : hari perhitungan amal-amal semua makhluk, baik amal baik maupun amal jahat, segala dosa, besar atau kecil dihitung dengan seksama dan teliti.

4. Yaumul Mizan : hari pertimbangan amal manusia secara adil tentang kebajikan dan kejahatan manusia.

5. As-Shirat : jembatan yang terbentang di atas neraka menuju surga. mudah atau sulitnya  melewati as-shirat ini tergantung pada amal setiap manusia dan hasil mizan (timbangan) yang diperolah

6. Yaumul Jaza' : tahapan manusia akan menerima keputusan dari Allah SWT

7. Yaumul Fashl : keputusan Allah SWT terhadap nasib orang-orang beriman dan orang-orang kafir kelak di akhirat. balasan amal baik dengan surga, sedangkan balasan perbuatan buruk dengan neraka

HAKIKAT BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

Iman kepada hari akhir merupakan rukun iman yang kelima yang harus diyakini oleh setiap umat Islam. Segala perbuatan yang dilakukan oleh setiap manusia, baik maupun buruk akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Oleh sebab itu, keimanan kepada Hari Akhir hendaknya dijadikan landasan utama untuk menyadarkan diri agar selalu taat kepada ajaran Allah Swt. Banyak ayat dan hadis yang memerintahkan kita agar meyakini datangnya Hari Akhir, di antaranya adalah firman Allah Swt. pada Q.S. al-Baqarah/2:4 berikut: 

Artinya: “dan mereka yang beriman kepada (al-Qurān) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat”.

Kemudian, dalam percakapan Rasulullah saw. dengan malaikat Jibril yang panjang tentang iman, Islam, dan Ihsann, beliau bersabda (ketika ditanya tentang iman): 

Artinya: “Beliau menjawab: “Kamu beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk”. (H.R. Muslim). Dalam ayat di atas ditegaskan bahwa meyakini adanya Hari Akhir merupakan salah satu ciri orang beriman. 

Adapun dalam penggalan hadis di atas, Rasulullah saw. menyebutkan bahwa Hari Akhir sebagai salah satu perkara yang wajib diyakini, yang kemudian disebut rukun iman. Iman kepada Hari Akhir berarti percaya dengan penuh keyakinan bahwa kehidupan yang kekal hanyalah di akhirat.

HIKMAH BERIMAN KEPADA HARI AKHIR

1. Muncul rasa kebencian yang dalam kepada kemaksiatan dan kebejatan moral yang mengakibatkan murka Allah Swt. di dunia dan di akhirat. 

2. Menyejukkan dan menggembirakan hati orang-orang mukmin dengan segala kenikmatan akhirat yang sama sekali tidak dirasakan di alam dunia ini.

3. Senantiasa tertanam kecintaan dan ketaatan terhadap Allah Swt. dengan mengharapkan mau’nah-Nya pada hari itu. 

4. Senantiasa termotivasi untuk beramal baik dengan ikhlas. 

5. Senantiasa menghindari niat-niat yang buruk apalagi melaksanakannya; 

6. Menjauhkan diri dari asumsi-asumsi yang mengkiaskan apa yang ada di dunia ini dengan apa yang ada di akhirat.

*Rangkumlah Materi Iman Kepada Hari Akhir Diatas Dibuku PAI kalian Masing-Masing Lalu Upload di link Google Form Berikut*


Selasa, 01 September 2020

BERSIKAP DEMOKRATIS DALAM ISLAM KAJIAN SURAT ALI IMRAN AYAT 159

BERSIKAP DEMOKRATIS DALAM ISLAM

Pengertian Demokratis

Demokrasi berasal dari bahasa yunani yaitu Demos yang berarti rakyat dan Kratos yang berarti pemerintahan. Arti kata demokratis menurut KBBI adalah bersikap demokrasi, berciri demokrasi, sedangkan pengertian demokrasi sendiri adalah :

  1. 1) (bentuk atau sistem) pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat;
  2. 2) gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara;

Istilah demokrasi dalam sejarah Islam tetaplah asing, karena sistem demokrasi tidak pernah dikenal oleh kaum muslimin sejak awal. Orang-orang Islam hanya mengenal kebebasan (al hurriyah) yang merupakan pilar utama demokrasi yang diwarisi semenjak jaman Nabi Muhammad (Saw.), termasuk di dalamnya kebebasan memilih pemimpin, mengelola negara secara bersama-sama (syura), kebebasan mengkritik penguasa, kebebasan berpendapat.
Nabi Muhammad (Saw.) dan Sikap Demokratis, Buku-buku sejarah mencatat bahwa di luar otoritas keagamaan yang menjadi tugas utamanya, Nabi Muhammad (Saw.) merupakan tokoh yang demokratis dalam berbagai hal. Bahkan ketika terjadi kasus-kasus yang tidak mempunyai sandaran keagamaan (wahyu) beliau bersikap demokratis dengan mengadopsi pendapat para sahabatnya, hingga memperoleh arahan ketetapan dari Allah.
Sikap demokratis Nabi Muhammad (Saw.) ini barangkali merupakan sikap demokratis pertama di Semenanjung Arabia, di tengah-tengah masyarakat padang pasir yang paternalistik, masih menjunjung tinggi status-status sosial klan, dan non-egaliter.
Beberapa contoh yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad (Saw.) merupakan seorang demokrat adalah:
Ketika Nabi Muhammad (Saw.) diminta suku-suku Arab menjadi penguasa sipil (non-agama) di luar status beliau sebagai pemegang otoritas agama, beliau mengambil pernyataan setia orang-orang yang ingin tunduk dalam kekuasaan beliau sebagai tekhnik memperoleh legitimasi kekuasaan. Pernyataan setia ini dikenal dalam sejarah Islam sebagai “Bai’at Aqabah I & II”. Dari titik ini para ulama Islam sejak dulu menegaskan bahwa kekuasaan pada asalnya di tangan rakyat, karena itu kekuasaan tidak boleh dipaksakan tanpa ada kerelaan dari hati rakyat. Pernyataan kerelaan itu dinyatakan dalam bentuk “pernyataan setia” atau bai’at.
Setelah Nabi Muhammad (Saw.) bermigrasi ke Madinah, beliau mengangkat budak kulit hitam Ethiopia yang bernama Bilal menjadi pengumandang panggilan shalat (azan). Posisi ini merupakan sebuah kedudukan prestisius bagi seorang budak kulit hitam dalam belantara kabilah-kabilah Arab yang terhormat.
Ketika beliau membentuk negara pertama kali dalam Islam, yaitu negara Madinah yang multi agama. Beliau tidak menggunakan Al Quran sebagai konstitusi negara Madinah. Karena Al Quran hanya berlaku bagi orang-orang yang mempercayainya, yaitu kaum muslimin. Beliau menyusun “Piagam Madinah” berdasarkan kesepakatan dengan orang-orang Yahudi sebagai konstitusi negara Madinah. Pada masa negara Madinah ini pula beliau mengenalkan konsep “bangsa” (al ummah) sebagai satu kesatuan warga negara Madinah tanpa membedakan asal-usul suku.
Nabi Muhammad (Saw.) mendirikan negara Madinah ini berdasarkan kontrak sosial (al ‘aqd al ijtima’i) antara kaum muslimin dengan kaum Yahudi, Kristen, dan kaum Arab pagan yang berdiam di Madinah. Piagam Madinah berisi prinsip-prinsip interaksi yang baik antarpemeluk agama; saling membantu menghadapi musuh yang menyerang negara Madinah, menegakkan keadilan dan membela orang yang teraniaya, saling menasehati, dan menghormati kebebasan beragama.
Sewaktu Perang Badar, perang pertama kali dalam sejarah Islam antara kaum muslimin dengan orang-orang Arab pagan, Nabi Muhammad (Saw.) menanggalkan pendapatnya dan mengambil pendapat sahabatnya dalam menyusun strategi perang yang jitu.
Makna Surat Ali Imran Ayat 159
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ 
فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
 Artinya :
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

ASBABUN NUZUL SURAT ALI IMRAN AYAT 159

Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zilalil Quran menjelaskan, ketika perang Uhud, semangat kaum muslimin berkobar untuk pergi berperang. Terutama mereka yang tidak ikut perang Badar. Namun barisan mereka mengalami guncangan karena sepertiga pasukan kembali pulang ke Madinah sebelum perang. Mereka yang berbalik pulang itu dipimpin oleh gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul.

Sesudah itu, saat perang berlangsung, sebagian pasukan mendurhakai perintah Rasulullah. Yakni pasukan pemanah yang telah diinstuksikan untuk tetap di atas bukit sampai ada perintah untuk turun.

Kaum muslimin yang semula menang pun kemudian terpukul. Bahkan sebagiannya meninggalkan Rasulullah yang dikepung pasukan musuh. Hanya sejumlah sahabat yang bertahan melindungi Rasulullah, sementara barisan yang lain porak poranda dihantam musuh.

Ayat ini turun untuk menenangkan dan menyenangkan hati Rasulullah dan menyadarkan kaum muslimin terhadap nikmat Allah berupa Rasulullah yang akhlaknya sangat mulia. Lemah lembut, pemaaf, musyawarah dan tawakal.

1. Lemah Lembut Rahmat Allah

Poin pertama dari Surat Ali Imran ayat 159 ini adalah karakter lemah lembut Rasulullah adalah karena rahmat Allah.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.

Rasulullah memiliki sifat lemah lembut. Ayat ini menyatakan, sifat lemah lembut itu disebabkan karena rahmat Allah.

“Yakni sikapmu yang lemah lembut terhadap mereka, tiada lain hal itu dijadikan Allah buatmu sebagai rahmat untukmu dan untuk mereka,” demikian Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya.

Sayyid Qutb menjelaskan, manusia selalu membutuhkan naungan yang penuh kasih sayang, wajah yang teduh dan ramah, cinta dan kasih sayang, serta jiwa penyantun dan penuh kelembutan. Itu semua ada pada diri Rasulullah karena rahmat dari Allah.

Penjelasan Sayyid Qutb itu mengisyaratkan, sikap lemah lembut harus dimiliki oleh setiap mukmin, terlebih lagi jika ia seorang pemimpin.

Dalam Tafsir Al Munir, Syaikh Wahbah Az Zuhaili mengutip hadits, namun yang benar adalah atsar dari Umar bin Khattab:

إنه لا حلم أحب إلى الله من حلم إمام ورفقه ولا جهل أبغض إلى الله من جهل إمام وخرقه

“Tidak ada sikap lembut yang lebih dicintai Allah dari sikap lembut dan murah hati seorang pemimpin. Dan tidak ada sikap kasar lagi angkuh yang lebih dibenci Allah dari sikap kasar dan arogansi seorang pemimpin.”

2. Sikap Kasar Akan Menjauhkan Kita Dari Orang-Orang

Poin kedua dari Surat Ali Imran ayat 159 ini menjelaskan akibat bersikap keras lagi kasar.

وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.

Kata fadhzan (فظا) berasal dari kata al fadhz (الفظ) yang artinya adalah keras. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa maknanya adalah keras dan kasar dalam berbicara.

Ibnu Katsir menjelaskan maknanya. “Sekiranya kamu kasar dalam berbicara dan berkeras hati dalam menghadapi mereka, niscaya mereka bubar dan meninggalkanmu. Akan tetapi Allah menghimpun mereka di sekelilingmu dan membuat hatimu lemah lembut terhadap mereka sehingga mereka menyukaimu.”

Kata-kata kasar dan keras hati adalah sikap yang secara fitrah dibenci oleh manusia. Jika ada pemimpin yang kata-katanya kasar dan hatinya keras, manusia akan menjauhinya. Kalaupun ada yang mendekat, mereka mendekat bukan karena cinta tapi karena takut dan terpaksa.

Sedangkan Rasulullah adalah pemimpin yang agung. “Beliau tidak pernah marah karena persoalan pribadi,” terang Sayyid Qutb, “tak pernah sempit dadanya menghadapi kelemahan mereka selaku manusia dan tak pernah mengumpulkan kekayaan untuk dirinya sendiri bahkan memberikans segala yang beliau punya. Kesantuan, kesabaran, kebajikan, kelemahlembutan dan cinta kasih sayangnya yang mulia senantiasa meliputi mereka.”

3. Seni Memaafkan dan Sikap Demokratis

Poin ketiga dari Surat Ali Imran ayat 159 ini perintah untuk memaafkan dan memohonkan ampun serta bermusyawarah.

فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ

Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.

Meskipun sebagian kaum muslimin berbuat salah, Allah memerintah Rasulullah untuk memaafkan mereka dan memohonkan ampunan kepada Allah. Allah juga memerintahkan untuk mengajak mereka bermusyawarah.

“Islam menerapkan prinsip musyawarah dalam sistem pemerintahan. Sehingga Rasulullah sendiri melakukannya,” tegas Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zilalil Quran.

Rasulullah selalu bermusyawarah dengan mereka. Saat perang badar, Rasulullah bermusyawarah meminta pendapat para sahabat tatkala yang akan mereka hadapi adalah tentara kafir Quraisy bukan lagi kafilah dagang Abu Sufyan. Lalu para sahabat pun menyatakan kesiapannya untuk berperang bersama Rasulullah.

Saat perang Uhud, Rasulullah juga mengajak para sahabat bermusyawarah apakah menghadapi musuh dengan menyambutnya di luar Madinah atau bertahan di Madinah. Ketika perang Ahzab juga Rasulullah mengajak musyawarah terkait strategi pertahanan. Ketika perjanjian Hudaibiyah juga musyawarah.

Begitu banyak contoh musyawarah Rasulullah dan sahabat dalam sejarah. Sehingga dalam istilah modern, Rasulullah sangat demokratis. Tidak otoriter dalam memutuskan sesuatu. Beliau mengajak para sahabat musyawarah kecuali dalam hal yang telah ditetapkan wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikian pentingnya musyawarah atau syuro, Buya Hamka ketika menafsirkan Surat Ali Imran ayat 159 ini membuat sub judul “syuro sebagai sendi masyarakat Islam.” Panjang lebar beliau menjelaskan contoh-contoh musyawarah di masa Rasulullah.

“Pertumbuhan syura islami itu hampir sama jugalah dengan pertumbuhan demokrasi pada kota-kota Yunani purbakala. Demokrasi sudah ada sejak semula. Tiap kota memiliki demokrasi sendiri dan semua orang berhak menghadiri pertemuan serta mengeluarkan pendapat. Kemudian demokrasi itu pun boleh berkembang menurut perkembangan zaman dan tempat, ruang dan waktu,” tulis Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar.

4. Tawakkal dan menyikapi Hasil Musyawarah

Poin keempat dari Surat Ali Imran ayat 159 ini adalah perintah untuk bertawakkal, terutama setelah musyawarah.

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Ketika menafsirkan firman Allah ini, Ibnu Katsir mengatakan, “Yakni apabila engkau bermusyawarah dengan mereka dalam urusan itu dan kamu telah membulatkan tekadmu, hendaklah kamu bertawakkal kepada Allah.”

Inilah yang diperintahkan Allah. Jika musyawarah telah menghasilkan keputusan, pegang keputusan itu dan bertawakkallah kepada Allah. Jangan risau dengan hasilnya, jangan menyalahkan musyawarah jika ada hal yang tidak sesuai dengan harapan, sepanjang sudah menjalankan hasil musyawarah itu.

Misalnya musyawarah menjelang perang uhud memutuskan pasukan Islam menghadapi pasukan kafir Quraisy di luar Madinah. Ketika kaum muslimin kalah dan sekitar 70 sahabat syahid, orang munafik menyalahkan hasil musyawarah itu dan mengungkit pendapat mereka untuk bertahan di Madinah. Padahal mereka ingin perang di Madinah agar tidak kelihatan ketika tidak ikut berperang. Dan nyatanya kaum munafik itu memang tidak meneruskan perjalanan ke Uhud, berbalik pulang ke Madinah.

Sedangkan Rasulullah, meskipun pendapatnya juga ingin menghadapi musuh dengan pertahanan kota di Madinah, beliau mengikuti keputusan musyawarah yang menyepakati menyambut musuh di luar Madinah. Meskipun kemudian pasukan Islam kalah dalam perang uhud itu, Rasulullah tidak pernah menyalahkan musyawarah dan tidak pernah mengungkit pendapat beliau.

Tawakkal inilah yang membuat seorang mukmin tidak menyalahkan hasil musyawarah dan tidak mengungkit pendapatnya yang ditolak saat musyawarah. Dan orang yang tawakkal dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Isi Kandungan Surat Ali Imran Ayat 159

Berikut ini adalah isi kandungan Surat Ali Imran ayat 159:

  • Rasulullah memiliki sifat lemah lembut dan sifat itu disebabkan oleh rahmat Allah. Karena lemah lembut itu dari rahmat Allah, seseorang yang menginginkan lemah lembut ada padanya, ia harus memintanya kepada Allah dan berupaya mendapatkan rahmat-Nya.
  • Manusia menyukai pribadi yang lemah lembut, sebaliknya membenci kata-kata kasar dan sikap keras hati. Manusia akan menjauh dari orang yang suka berkata kasar dan hatinya keras.
  • Rasulullah memiliki akhlak yang agung, di antaranya adalah pemaaf, suka bermusyawarah dan tawakkal.
  • Allah memerintahkan hamba-Nya agar memaafkan orang lain dan mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan.
  • Ketika musyawarah telah menghasilkan keputusan, maka harus dilaksanakan dengan dilandasi tawakkal kepada Allah.
  • Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal.

Rangkumlah Materi Diatas Lalu Foto Hasil Rangkuman Kalian Dan Ubah Ke File PDF lalu Upload Ke Link Google Form Berikut
https://forms.Rangkuman Materi Bersikap Demokratis Dalam Islam

Senin, 31 Agustus 2020

BERPIKIR KRITIS DALAM ISLAM Kajian Surat Ali Imran ayat 190 dan 191

1.        Makna Bepikir Kritis

Berfikir kritis adalah kemampuan berfikir yang kompleks dengan menggunakan proses analisis dan evaluasi terhadap suatu informasi yang diterima maupun dalam menyelesaikan permasalahan, atau arti berfikir kritis ialah berfikir untuk mencari kebenaran terhadap informasi yang diterima atau dalam menyelesaikan masalah, cara berfikir kritis yaitu secara tenang, jangan emosi, dahulukan logika, pahami permasalahan, lakukan analisis, dan evaluasi hasilnya, barulah ambil keputusan atau tindakan.
      
     Sedangkan Makna berpikir kritis (dalam konteks agama islam) adalah sikap juga tindakan seseorang yang senantiasa berusaha memahami ayat-ayat Allah SWT dari berbagai sumber lalu kemudian menganalisa dan merenungi kandungan ayat-ayat tersebut yang diikuti dengan tindakan nyata dan sikap positif dalam perilaku sehari-hari.

2.       Manfaat Berpikir Kritis

Berangkat dari definisi diatas, sikap dan tindakan yang mencerminkan berpikir kritis terhadap ayat-ayat Allah swt (informasi Ilahi) adalah berusaha memahaminya dari berbagai sumber, menganalisis, dan merenungi kandungannya, kemudian menindaklanjuti dengan sikap dan tindakan positif. Berikut adalah 9 manfaat berpikir kritis dalam Islam

1.          Dapat menangkap makna dan hikmah di balik semua ciptaan Allah swt.
2.         Dapat mengoptimalkan pemanfaatan alam untuk kepentingan umat manusia.
3.   Dapat mengambil inspirasi dari semua ciptaan Allah swt dalam mengembangkan  IPTEKS.
4.        Menemukan jawaban dari misteri penciptaan alam (melalui penelitian).
5.        Mengantisipasi terjadinya bahaya, dengan memahami gejala dan fenomena alam.
6.    Semakin bersyukur kepada Allah swt atas anugerah akan dan fasilitas lain, baik yang berada di dalam tubuh kita maupun yang ada di alam semesta.
7.         Semakin termotivasi untuk menjadi orang visioner.
8.        Semakin bertambah keyakinan tentang adanya hari pembalasan.
9.     Semakin bersemangat dalam mengumpulkan bekal yntuk kehidupan akhirat, dengan meningkatkan amal salih dan menekan/meninggalkan kemaksiatan.

3.       Ayat Al Quran Tentang Berpikir Kritis

Q.S. Ali 'Imran/3:190-191 

 (190) إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ


الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ 
(191)رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya :
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.
a)     Hukum Tajwid Surat Ai Imran Ayat 190-191

Lafal
Hukum Tajwid

إِنَّ
Gunnah (Di baca dengung dua harakat hurufnya yaitu nun dan mim yang bertasdid)
فِيْ
Mad Thabi’I karena ya mati sebelumnya berharakat kasrah (Di baca panjang dua harakat hurufnya  alif, wawu dan ya)
خَلْقِ السَّمَاوَاتِ
Alif Lam Syamsiyah karena alif lam bertemu dengan salah satu huruf syamsiyah yaitu س hurufnya ada 14 yaitu ط ث ص ر ت ض ذ ن د س ظ ز ش ل
وَالْأَرْضِ
Alif Lam Qomariyah karena alif lam bertemu dengan salah satu huruf qomariyah yaitu ا hurufnya ada 14 yaitu  ب و خ ف ع ق غ ح ج ك ي م ه ا
وَاخْتِلَافِ
Hames yaitu berhembusnya nafas karena lemahnya tekanan makhraj (Dibaca dengan menghembuskan nafas yang keluar hurufnya ada 10 ف ح ث ه ش خ ص س ك ت
وَاخْتِلَافِ
Mad Thabi’I karena alif sebelumnya berharakat fathah (Di baca panjang dua harakat hurufnya  alif, wawu dan ya)

وَالنَّهَارِ
* Alif Lam Syamsiyah karena alif lam bertemu dengan salah satu huruf syamsiyah yaitu س hurufnya ada 14 yaitu ط ث ص ر ت ض ذ ن د س ظ ز ش ل
* Gunnah (Di baca dengung dua harakat hurufnya yaitu nun dan mim yang bertasdid)

آيَاتٍ لِأُولِي 

Idghom Bila Gunnah karena tanwin bertemu dengan huruf Idghom Bila Gunnah yaitu ل (Di baca lebur kedalam huruf lam hurufnya ada dua yaitu ل ر)
الْأَلْبَابِ
Qolqolah Qubra (Dibaca memantul besar karena huruf qolqolah wakaf di akhir kalimat hurufnya ada lima yaitu ب ج د ط ق
الَّذِينَ
Mad Thabi’I karena ya mati sebelumnya berharakat kasrah (Di baca panjang dua harakat hurufnya  alif, wawu dan ya)
يَذْكُرُونَ اللَّهَ
Mad Thabi’I karena wawu mati sebelumnya berharakat dhomah (Di baca panjang dua harakat hurufnya  alif, wawu dan ya)
يَذْكُرُونَ اللَّهَ
Lafadz Jalalah Tafhim karena sebelum lafadz Jalalah berharakat Fathah (Dibaca tebal)
قِيَامًا وَقُعُودًا
Mad Thabi’I karena alif sebelumnya berharakat fathah (Di baca panjang dua harakat hurufnya  alif, wawu dan ya)
قِيَامًا وَقُعُودًا
Idghom Bi Gunnah dibaca gunnah karena tanwin bertemu dengan huruf Idghom Bila Gunnah yaituو  (Di baca lebur kedalam huruf wawu disertai gunnah dua harakat hurufnya ada empat yaitu ي ن م و)
وَقُعُودًا وَعَلَىٰ 
Idghom Bi Gunnah dibaca gunnah karena tanwin bertemu dengan huruf Idghom Bila Gunnah yaituو  (Di baca lebur kedalam huruf wawu disertai gunnah dua harakat hurufnya ada empat yaitu ي ن م و
جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ
Idzhar Syafawi yaitu mim mati bertemu selain mim dan ba (Di baca jelas tanpa dengung)
مَا خَلَقْتَ
Qolqolah Sugra (Dibaca memantul kecil karena huruf qolqolah sukun (mati) di tengah kalimat hurufnya ada lima yaitu ب ج د ط ق

b)   Tafsir Surat Ali Imran Ayat 190

Ayat ini merupakan bantahan bagi kaum Yahudi yang mengklaim kefakiran Allah (Innallaha ta’ala faqirun wa nahnu aghniyaa). Maka melalui ayat kauniyah ini, Allah menunjukkan betapa Maha Kaya-Nya Allah, sedangkan hamba-Nya justru sangat membutuhkan-Nya. Hanya Allah lah yang mampu menciptakan alam semesta dan segala isinya sekaligus mengatur segala urusan makhluk di dalamnya. Namun hal ini tidak dapat dipahami kecuali hanya orang-orang berakal sempurna dan logika yang sehat, yang disebut sebagai ulul albab.

Ulu dalam bahasa Arab berarti ِAshab yaitu pemilik. Sedangkan albab adalah bentuk jamak dari al-lubb yang berarti inti segala sesuatu. Dalam Al-Qur’an, kata ini disebutkan sebanyak 16 kali dan selalu merujuk pada arti orang yang berakal.

Syekh Muhammad Sayyid Thanthowi dalam Tafsir Al-Wasith menyebutkan bahwa ulul albab adalah mereka yang memiliki akal jernih dan logika yang benar. Imam Al-Zamakhsyari dalam Al-Kasyaf menyebutkan bahwa ulul albab adalah orang-orang yang membuka akal dan pikirannya untuk melihat, menyimpulkan, dan mengambil ibrah dalam setiap keajaiban ciptaan-ciptaan Allah. Imam Abu Bakar Al-Jazairi menambahkan pengertian ulul albab sebagai orang-orang yang mengetahui sesuatu (ciptaan Allah) dan memahami bukti-bukti yang menyertainya.

Penciptaan langit dan bumi yang telah sempurna berikut segala macam atributnya berupa planet-planet, galaksi, laut yang membentang, perkebunan, pepohonan, serta adanya pergantian siang dan malam, merupakan bukti jelas keesaan, keagungan, dan kekuasaan Allah bagi para Ulul Albab.

Surat Ali Imran ayat 190 ini menjelaskan bahwa dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi ulul albab. Yakni orang-orang yang berakal. Orang-orang yang mau berpikir. Orang-orang yang mau memperhatikan alam. Orang-orang yang kritis.

“Al Quran mengarahkan hati dan pandangan manusia secara berulang-ulang dan intens untuk memperhatikan kitab yang terbuka (alam) ini, yang tidak pernah berhenti halaman-halamannya berbolak-balik,” kata Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zilalil Quran. “Maka dalam setiap halamannya tampaklah ayat yang mengesankan dan mengkonsentrasikan dalam fitrah yang sehat perasaan terhadap kebenaran dan desain alam ini.”

Ibnu Katsir menjelaskan, surat Ali Imran ayat 190 ini memotivasi untuk memperhatikan ketinggian langit dan keluasan bumi, tata letak dan semua yang ada padanya mulai gunung hingga lautan. Mulai padang pasir hingga hutan. Mulai hewan hingga tumbuhan dan pepohonan. Juga bintang-bintang.

“Renungkanlah alam, langit dan bumi. Langit yang melindungimu dan bumi yang terhampar tempat kamu hidup,” kata Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar. “Pergunakanlah pikiranmu dan tiliklah pergantian antara siang dan malam. Semuanya itu penuh dengan ayat-ayat, tanda-tanda kebesaran Allah.”

Ulul albab menurut Ibnu Katsir adalah orang yang memiliki akal sempurna lagi memiliki kecerdasan. Sedangkan menurut Sayyid Qutb, ulul albab adalah orang-orang yang memiliki pemikiran dan pemahaman yang benar.

Orang yang memahami bahwa penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah, mereka itulah ulul albab. Sedangkan orang-orang bodoh, meskipun ia melihat langit dan bumi serta melihat pergantian siang dan malam setiap hari, mereka tidak sampai pada kebenaran itu. Meskipun secara akademis dikenal pandai. Karena itulah, Amr bin Hisyam yang oleh kaumnya diberi gelar Abul Hakam, dalam Islam diberi gelar Abu Jahal.

c)    Tafsir Surat Ali Imran Ayat 191

Siapakah ulul albab yang disebutkan dalam Surat Ali Imran ayat 190? Ayat 191 ini menjelaskannya. Bahwa ulul albab adalah orang yang banyak berdzikir dan bertafakkur. Ia berdzikir dalam segala kondisi baik saat berdiri, duduk ataupun berbaring. Ia juga mentafakkuri (memikirkan) penciptaan alam ini hingga sampai pada kesimpulan bahwa Allah menciptakan alam tidak ada yang sia-sia. Maka ia pun berdoa kepada Allah, memohon perlindungan dari siksa neraka.

“Di sini bertemulah dua hal yang tidak terpisahkan yakni dzikir dan pikir,” kata Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar. “Mereka tidak pernah terputus dari berdzikir mengingat-Nya dalam semua keadaan mereka,” tulis Ibnu Katsir saat menafsirkan Surat Ali Imran ayat 191. “Lisan, hati dan jiwa mereka semuanya selalu mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

“Wayatafakkaruuna fii khalqis samaawaati wal ardl menurut Ibnu Katsir maknanya adalah, mereka memahami semua hikmah yang terkandung di dalamnya yang menunjukkan kepada kebesaran Penciptanya, kekuasaan-Nya, pengetahuan-Nya, pilihan-Nya dan rahmat-Nya.

Maka Hasan Al Basri mengatakan, “berpikir selama sesaat  lebih baik daripada berdiri shalat semalam.” Umar bin Abdul Aziz mengatakan, “Berbicara untuk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah baik dan berpikir tentang nikmat-nikmat Allah lebih utama daripada ibadah.”

Sayyid Qutb menjelaskan, memikirkan kekuasaan Allah dalam penciptaan makhluk ini merupakan ibadah kepada Allah dan juga bentuk dzikir kepada-Nya. Dan ayat-ayat Allah di alam semesta ini tidak menampakkan hakikatnya yang mengesankan kecuali kepada hati yang selalu berdzikir dan beribadah.

Hasil yang kemudian diperoleh dari tafakkur ini, adalah suasana berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga ia pun berdoa:

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
“Ucapan doa ini adalah lanjutan perasaan sesudah dzikir dan pikir, yaitu tawakkal dan ridha, menyerah dan mengakui kelemahan diri,” kata Buya Hamka.
d)   Kandungan Surat Ali Imran Ayat 190-191

1.        Penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang merupakan tanda kekuasaan Allah.
2.       Tanda kekuasaan Allah di alam semesta ini hanya diketahui oleh ulul albab.
3.       Ulul albab adalah orang yang berdzikir dan berpikir. Ia selalu ingat kepada Allah dalam segala kondisi dan ia juga mempergunakan akalnya untuk memikirkan penciptaan alam semesta.
4.      Tafakkur atau berpikir yang benar akan mengantarkan pada kesimpulan bahwa Allah menciptakan sesuatu tidak ada yang sia-sia. Semuanya benar, semuanya bermanfaat.
5.       Tafakkur atau berpikir yang benar juga melahirkan kedekatan kepada Allah dan memperbanyak doa kepada-Nya.

Soal Latihan Materi Berpikir Kritis dalam Islam

1. Apa makna berpikir kritis dalam Islam?

2. Sebutkan 3 manfaaat berpikir kritis dalam Islam yang langsung bisa dirasakan manfaat nya dalam kehidupan sehari-hari?  

3.  خَلَقْتَ apa hukum tajwid bacaan tersebut dan jelaskan secara detail!

4.   Surat Ali Imran ayat 190 merupakan bantahan bagi kaum Yahudi yang mengklaim kefakiran Allah  yang diambil dari ayat (Innallaha ta’ala faqirun wa nahnu aghniyaa), sebutkan surat dan ayat!

5. Dijelaskan bahwa di dalam Al Qur'an terdapat 16 kata Ulul Albab Sebutkan lah  lima ayat yang mengnadung kata tersebut!
6. Sebutkanlah lima tanda kebesaran Allah SWT yang ada pada pergantian siang dan malam!

7. Pilihlah satu binatang dan Carilah 5 tanda kebesaran Allah SWT yang ada pada binatang tersebut!

8. Sebutkanlah 5 nikmat-nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada manusia!

9. Tafakurilah hikmah dibalik Allah SWT menurukan virus Corona, sebutkanlah 5 Hikmahnya!

10. Pilihlah satu ayat Al Qur'an, tafakuri ayat tersebut dan sebutkan 5 hikmah yang terkandung dalam ayat tersebut!


Silahkan dipahami dan dijawab soal latihan diatas di link Google Form berikut

https://forms.gle/LJS PAI BAB Berpikir Kritisi Dalam Islam


🔻Apabila ada hal yang kurang dimengerti bisa ditanyakan di kolom komentar🔻


 






Popular Posts